Ahmad Febryan, mahasiswa semester tiga IAIN Pontianak, berjalan pelan di antara bangunan kampus yang modern dan hiruk-pikuk para mahasiswa yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tetapi di balik semua itu, ada sesuatu yang tidak pernah padam dalam dirinya: rindu pada Pondok Pesantren Al-Mujahidin di Ketapang tempat ia pernah tinggal, belajar, dan menempa karakter sebagai santri.
Setiap kali angin sore berhembus melewati pepohonan trembesi kampus, sanubari Febryan seperti ditarik kembali ke masa lalu. Ia teringat suasana pondok yang sederhana: suara para santri mengaji selepas maghrib, aroma kayu basah yang menyelimuti halaman pondok setelah hujan, dan hiruk pikuk kehidupan kamar yang tak pernah benar-benar sunyi. Namun yang paling membuatnya rindu adalah figur yang menjadi cahaya bagi seluruh santri Al-Mujahidin: Pengasuh PP Al-Mujahidin, KH Naweri Sidin, S.Ag.
Sosok pengasuh itu selalu memiliki ketenangan yang mendamaikan. Dengan caranya yang lembut namun tegas, beliau membentuk karakter para santri untuk menjadi pribadi yang beradab. Nasihat beliau kerap terngiang dalam hati Febryan, terutama kalimat yang selalu beliau ulang-ulang, “Ilmu itu harus ditemani adab. Kalau adab hilang, ilmunya tak akan sampai ke hati.” Kalimat itu selalu menjadi pegangan bagi Febryan dalam menjalani dunia kampus yang penuh tantangan.
Di lingkungan kampus, ada banyak hal yang membuat rindu itu kembali muncul. Saat menunggu dosen yang belum datang, ia teringat masa di mana ia duduk di serambi pondok, menanti KH Naweri Sidin, S.Ag membuka kitab. Saat berjalan menuju masjid kampus, ia seakan mendengar gema pengeras suara pondok yang suaranya sering pecah namun sangat dirindukan. Bahkan aroma makanan kantin kampus pun memanggil ingatannya pada masakan sederhana dapur pondok yang dulu menjadi penyelamat setelah belajar malam panjang.
Di kos, malam-malam terasa lebih sunyi daripada suasana kamar pondok yang penuh tawa dan obrolan. Dulu, kebiasaan bangun subuh tak pernah bisa dilewatkan karena pengurus pondok selalu sigap mengelilingi kompleks kamar. Sekarang, ia harus melawan rasa malasnya sendiri, dan kadang itu membuatnya sadar betapa besar jasa pondok terhadap kedisiplinan hidupnya.
Suatu sore, setelah matahari condong ke barat dan siluet langit mulai memudar, Febryan duduk di tepi danau kecil kampus. Ia membuka mushaf kecil yang selalu ia bawa mushaf yang dulu diberikan sebagai hadiah ketika ia menyelesaikan hafalan juz pertamanya. Angin lembut menerpa halaman mushaf, dan suasana itu membuatnya seolah kembali berada di serambi pondok, dikelilingi suara santri yang mengulang hafalan.
Dalam keheningan itu, ia menyadari satu hal: rindu bukan sekadar perasaan, tetapi penghubung antara masa lalu dan perjalanan yang ia jalani sekarang. Dunia kampus memberikan ilmu dan kesempatan baru, tetapi pondok memberikan fondasi yang membuatnya tegak berdiri. Tanpa pondok, ia mungkin tidak akan menjadi mahasiswa yang mampu menghadapi kerasnya kehidupan akademik.
Febryan menatap permukaan danau yang tenang. Ia merasa seakan melihat bayangan pondoknya sendiri: bangunan sederhana, halaman yang luas, dan sosok KH Naweri Sidin, S.Ag berjalan perlahan sambil menebarkan senyum penuh doa kepada para santri.
Perasaan hangat merayap di dadanya. Ia tahu, cepat atau lambat, ia akan kembali menginjakkan kaki ke Al-Mujahidin bukan hanya untuk melepaskan rindu, tetapi untuk kembali meresapi suasana yang telah membentuknya menjadi manusia yang ia banggakan.
Malam itu, saat ia menutup mushaf dan kembali ke kos, hatinya terasa lebih lapang. Ia tahu bahwa rindu yang selama ini ia simpan bukanlah beban melainkan cahaya kecil yang terus membimbing langkahnya. Sebagai santri yang kini sedang menempuh jalan baru, Febryan percaya bahwa setiap jejak perjalanan hidupnya akan selalu terikat pada pondok, pada ilmu, pada adab, dan terutama pada doa seorang pengasuh yang tulus mencintai santri-santrinya.
Dan di kamar kos yang sunyi itu, Febryan tersenyum. Sebab ia tahu, sejauh apa pun langkahnya, Pondok Pesantren Al-Mujahidin akan selalu menjadi rumah tempat hatinya pulang.
